Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Hawin.., aku mau makan dulu. Bokep Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya.Apalagi yang dapat tertinggal? Ia memulai pijitan. Sekali. Bicara apa? Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Satu dua, satu dua. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung.




















