Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.“Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam… atau kamu kulempar ke jalan… mengerti?” ancamku lagi sambil berganti posisi.Aku mengambil alih kemudi. Dia masih tetap membisu.“Ayo pulang…” ajakku. Bokep Korea Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Peduli setan.“Ahh.. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Aku memandanginya dengan sayang. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kemaluanku sudah terkulai. Namun tak peduli.“Ayo.. nanti ngebanguninnya susah”, katanya polos.Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba…“Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu”, ancamku seraya menempelkan pisau




















