Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bokep china Dingin. Ia memulai pijitan. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Kaki disandarkan di dinding. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Tetapi, aku harus berani. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ayo. Tangannya halus. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka




















